Jadi Wota Itu Gampang, Keluarnya Yang Susah!

Pesona sanggar tari ibukota emang ga ada obat!


    Siapa yang tidak kenal dengan JKT48? Idol Group asal Indonesia yang merupakan sister group dari AKB48 yang ada di Jepang ini beberapa tahun kebelakang sedang mengalami masa-masa jayanya dan membuat banyak orang awam, termasuk saya menjadi tertarik dan mulai mendalami dunia per-jeketian. Sebenarnya saya sudah tahu JKT48 ini dari sejak SMP, tetapi tidak begitu mendalaminya, ya hanya sebatas mengetahui dan mendengarkan lagu-lagunya yang terkenal saja, namun semua berubah ketika saya menonton langsung perform JKT48 pada saat acara “Summerfest Festival 2023” di Semarang. Sejak perform tersebut, saya mulai mengikuti sedikit demi sedikit konten-konten dari JKT48, mulai dari member yang paling terkenal bahkan bagi orang awam, dan sampai pada tahap saya mengikuti update tentang JKT48 sampai ke generasi yang paling muda, yaitu generasi 12. Hari-hari saya dipenuhi dengan konten JKT48, baik dari akun resmi maupun akun-akun meme tentang JKT48, dan sekali kita menyukai postingan tersebut, algoritma medsos seakan menyetujui kita untuk menyelam lebih dalam ke JKT48 universe, sehingga kita semakin dijejali dengan konten-konten tersebut baik itu cuplikan pada saat show maupun editan “jj” alias jedag jedug yang beberapa tahun ini menjadi sebuah tren tersendiri.

    Tentunya hal tersebut membuat saya semakin larut dalam dunia idol dan kehaluan. Kalau dulu saya halu dengan idol k-pop, kali ini halu dengan yang kelihatannya lebih mudah digapai, karena dari segi bahasa, topik obrolan, dll itu mirip mirip dengan kehidupan kita, terlebih saya sehari-hari. Selain menjadi halu, ternyata menyelami dunia per-jeketian ini juga mempunyai sisi positif bagi saya, ya semacam menjadi moodbooster dikala dihantam realita kehidupan, aseekk. Penilaian saya terhadap para member pun berubah, karena setelah saya amati, menjadi member ini tidak mudah, selain dituntut untuk bisa multitalent, dari menyanyi, menari, acting, bahkan sampai menjadi MC, mereka pun harus menjadi seperti satpam bank swasta asal Indonesia yang terkenal ramah dalam situasi apapun, dan dalam hal ini, harus ramah menghadapi para fansnya yang tidak sedikit juga agak nyeleneh. Meskipun saya mungkin sudah dapat dikategorikan sebagai wota, tingkat fanatisme saya tidak setinggi wota wota yang jor-joran dalam “ngidol”. Sejauh ini, saya hanya mengikuti kegiatan idol tersebut melalui media sosial, dan sempat sekali menonton performnya secara live, itupun gara- gara gratis :D. Selain faktor budget yang terbatas, alasan saya belum sampai di tahap “ngidol” yang all out adalah domisili saya yang jauh (biasa disebut sebagai fansfar) dari markas besar JKT48 tersebut, sehingga agak sulit untuk mengikuti seluruh kegiatan JKT48 secara langsung/onsite.

    Menjadi wota memerlukan komitmen penuh, karena sekali kita terjerembab ke dalam lembah jeketi sangat sulit untuk kita bisa kembali menjadi manusia awam pada umumnya. Adanya berbagai konten dan event JKT48 membuat kita bukan hanya terlena, tapi semakin sulit untuk keluar karena semakin kita dalami, semakin kita mengetahui bahwa setiap member itu mempunyai karakter masing-masing yang unik dan itu bisa membuat kita menjadi oleng dari oshi, yaitu member favorit kita kepada member lain, dan hal itu terus menerus berlanjut, ditambah dengan konsep 48group yang terus melakukan regerenasi member membuat kita tidak akan kehilangan sosok idola kita, karena ketika oshi kita nantinya lulus atau graduate, pasti ktia menemukan oshi baru baik dari generasi yang sudah ada maupun generasi yang baru dibentuk. Maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa sekali menjadi wota, selamanya akan menjadi wota.

Komentar